Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 26 Mei 2016

BOS ATAU LEADER

Jakarta, 26 Mei 2016
Cengkareng, Jakarta Barat


Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah puji syukur kita ucapkan kehadirat Alloh SWT, atas segala nikmat dan karunianya sehingga kita semua masih diberikan kesehatan, kesempatan dalam menjalani hari-hari seperti biasa demi menggapai ridhoNya.....
Sholawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurahkan kepada junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang Insha Alloh selalu istiqomah di jalan sunnahnya serta mendapatkan syafaatNya di yaumil akhir nanti. aamiin...

Siang dalam suasana malam hari, mengapa saya katakan seperti itu? hehehehe, sebab jam dinding baru menunjukkan pukul 14.15 WIB namun karena cuaca yang mendung dan turun rintik-rintik hujan sehingga siang hari yang biasanya panas menjadi sangat sejuk sebab matahari dengan malu-malu belum terlihat sinarnya.

Hari Kamis ini terasa sangat panjang, tidak seperti hari-hari biasa yang memang dipenuhi rutinitas padat sehingga waktu terasa lebih cepat berlalu. Hari ini masih ada ujian sekolah untuk kelas 6 dengan mata pelajaran PLBJ. Praktis setelah ujian selesai rata-rata dari personil SDN KKA 06  sudah tidak lagi ada tugas rutin, seperti melaksanakan KBM dll, sebab KBM kelas 1 - 5 diliburkan.

Saya masih dalam kesibukan sendiri, maklum saya harus bisa menghandle beberapa pekerjaan dengan waktu yang sama bahkan lebih panjang dari personil-personil yang lain. Beberapa personil ada yang mengadakan nonton bareng film bioskop yang ada di internet, ada yang sedang koreksi hasil ujian anak-anak dan kesibukan-kesibukan lainnya.

Dihadapkan dengan berbagai macam pekerjaan yang sifatnya dateline memang cukup membuat tidak nyaman hati. Saat semangat itu melorot saya selalu ingat apa kata orang tua saya, yang namanya kerja itu harus ikhlas sehingga pekerjaan berat akan menjadi ringan. Itu adalah salah satu kata mutiara dari sekian banyak kata mutiara yang saya dapatkan dari orang tua saya. hmmmm.....
Kata ikhlas yang terbesit pada pikiran saya siang ini mengantarkan saya untuk mengenang memori tentang pimpinan saya Ibunda Afit Fatimah, M.Pd. Mengapa??? sebab saya berfikir beliau sudah banyak memberikan pelajaran hidup kepada saya yang sudah menginspirasi bahkan membekas di hati saya dan keluarga. Pimpinan yang bukan sekedar pimpinan, bisa jadi ibu, guru, sahabat bahkan menjadi teman disaat bergaul. subhanallah......
Tindak tanduk tindik "eh.... gak pake tindik kali yak... hehehehehe
Tindak tanduk beliau dalam kehidupan sehari-hari menjadi pelajaran buat saya pribadi. Bagaimana seorang pimpinan yang memang tidak terlihat ditaktor... namun menyenangkan.
Kemungkinan apabila beliau bukan pimpinan saya saat ini, mungkin rasa jenuh dan malas pada diri saya akan mulai menggerogoti pikiran dan jiwa.

"RUMAH"

Jakarta, 19 Mei 2016
Cengkareng, Jakarta Barat - DKI Jakarta


Mendadak ingin pulang dan memeluk anak dan istri setiba di rumah. Airmata mendesak tumpah. Kalau bukan karena rasa malu ketahuan banyak orang yang begitu besar, sudah kubiarkan tangis itu menjadi isak. Dan kubiarkan tubuh ini diguncang-guncang haru melihat anak-anak itu melepas rindu. Aku membalik badan. Tak kuat melihat anak-anak yang menangis berhamburan ke pelukan ayah-ayah mereka. Sedang ibu-ibu mereka, para istri yang menyengaja datang mengunjungi suaminya tersenyum menenteng oleh-oleh yang dibawa dari luar penjara. Mereka berdiri menunggu sampai suaminya mengarahkan ke tempat mereka akan duduk melepas rindu di taman yang disediakan untuk para pengunjung. Ini pertama kalinya aku berkunjung ke lapas. Bertemu sahabat yang mendiami bui untuk menebus perbuatannya melanggar hukum. Aku bersama tiga orang kawan. Lama menunggu sahabat itu tiba di area pengunjung. Saat itulah haru membuncah dada. Anak-anak yang entah berapa lama tak berjumpa ayah mereka menjerit dan menangis melihat ayah mereka melewati pos pemeriksaan dan pagar besi serupa jeruji. Anak-anak itu melepas pegangan ibu mereka. Berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya sambil terisak berkata, “Ayah…” Seketika ingatanku menuju rumah. Kepada anak dan istri. Batinku berdoa, “semoga kami terhindar dari pengalaman serupa.” Setitik dua titik ada juga air mata yang menetes. Aku mengusapnya. Kemudian lelah memenuhi kepala. Menjalari seluruh tubuh. Entah. Aku tak bisa berkata-kata. Sahabat itu belum juga tiba. Aku sangat merindukan rumah. Tergambar rupa rumah yang kami tempati – rumah mertua. Rumah sederhana dengan isi yang biasa-biasa saja. Tak ada barang mewah di dalamnya. Tapi di sanalah taman firdaus itu. Tumbuh di hati kami. Menjadi tawa. Menjadi suka. Menjadi irama yang menggerakkan jiwa menari dan menyanyi dalam segala rasa; bahagia dan derita hanyalah permainan hidup belaka. Sungguh, aku ingin pulang. Memeluk anak dan istri. Mengajak mereka merawat rumah. Menjaga rumah dari celaka yang bisa menimpa siapa saja, bahkan pengelana yang telah berhati-hati sekalipun, terpaksa meninggalkan rumah, bahkan lupa pulang. Karena kita musyafir yang rentan dihinggapi segala bentuk penyakit diri, merawat rumah juga meruwatnya, sebuah kewajiban; merawat laku agar rumah menjelma surga; merawat tingkah saat di luar rumah agar langkah tak enggan mengayun pulang; meruwat jiwa yang lena. Sebab rumah tempat pulang paling sah.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iben-nuriska/rumah_57468a372023bd5610613709

Mendadak ingin pulang dan memeluk anak dan istri setiba di rumah. Airmata mendesak tumpah. Kalau bukan karena rasa malu ketahuan banyak orang yang begitu besar, sudah kubiarkan tangis itu menjadi isak. Dan kubiarkan tubuh ini diguncang-guncang haru melihat anak-anak itu melepas rindu. Aku membalik badan. Tak kuat melihat anak-anak yang menangis berhamburan ke pelukan ayah-ayah mereka. Sedang ibu-ibu mereka, para istri yang menyengaja datang mengunjungi suaminya tersenyum menenteng oleh-oleh yang dibawa dari luar penjara. Mereka berdiri menunggu sampai suaminya mengarahkan ke tempat mereka akan duduk melepas rindu di taman yang disediakan untuk para pengunjung. Ini pertama kalinya aku berkunjung ke lapas. Bertemu sahabat yang mendiami bui untuk menebus perbuatannya melanggar hukum. Aku bersama tiga orang kawan. Lama menunggu sahabat itu tiba di area pengunjung. Saat itulah haru membuncah dada. Anak-anak yang entah berapa lama tak berjumpa ayah mereka menjerit dan menangis melihat ayah mereka melewati pos pemeriksaan dan pagar besi serupa jeruji. Anak-anak itu melepas pegangan ibu mereka. Berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya sambil terisak berkata, “Ayah…” Seketika ingatanku menuju rumah. Kepada anak dan istri. Batinku berdoa, “semoga kami terhindar dari pengalaman serupa.” Setitik dua titik ada juga air mata yang menetes. Aku mengusapnya. Kemudian lelah memenuhi kepala. Menjalari seluruh tubuh. Entah. Aku tak bisa berkata-kata. Sahabat itu belum juga tiba. Aku sangat merindukan rumah. Tergambar rupa rumah yang kami tempati – rumah mertua. Rumah sederhana dengan isi yang biasa-biasa saja. Tak ada barang mewah di dalamnya. Tapi di sanalah taman firdaus itu. Tumbuh di hati kami. Menjadi tawa. Menjadi suka. Menjadi irama yang menggerakkan jiwa menari dan menyanyi dalam segala rasa; bahagia dan derita hanyalah permainan hidup belaka. Sungguh, aku ingin pulang. Memeluk anak dan istri. Mengajak mereka merawat rumah. Menjaga rumah dari celaka yang bisa menimpa siapa saja, bahkan pengelana yang telah berhati-hati sekalipun, terpaksa meninggalkan rumah, bahkan lupa pulang. Karena kita musyafir yang rentan dihinggapi segala bentuk penyakit diri, merawat rumah juga meruwatnya, sebuah kewajiban; merawat laku agar rumah menjelma surga; merawat tingkah saat di luar rumah agar langkah tak enggan mengayun pulang; meruwat jiwa yang lena. Sebab rumah tempat pulang paling sah.

Rabu, 18 Mei 2016

MOTOR TUA YANG MASIH GRESS....

Jakarta, 19 Mei 2016
Cengkareng, Jakarta Barat - DKI Jakarta

Eko Dody Nugroho, S.Pd

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Alloh, yang masih memberikan keberkahan dan kebaikannya sehingga kita semua masih bisa menjalankan segala aktivitas kita dengan keaadaan sehat wal afiat serta penuh semangat.
Shollu Ala Muhammad.. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, serta para pengikutnya yang Insha Alloh selalu istiqomah dijalannya dan mendapatkan safaat di yaumil akhir nanti.. amiin..

Judul yang menarik "Motor tua yang masih gress", suatu ketika ada sebuah motor tua berwarna merah tahun 50an dengan merk honda. Motor masih dalam keadaan baik, bahkan tenaga dan tarikannya masih seperti motor baru. Dalam benak saya pun bertanya, "koq bisa ya?" motor tahun 50an di tahun 2016 ini masih dalam kondisi baik. Sedangkan banyak motor muda yang notabene kekinian yang mengusung fitur-fitur lebih baik dengan merk ternama namun setelah 1 - 3 tahun pemakaian sudah banyak masalah. Mulai dari remnya, rantai, keadaan ban, lampu, bahkan sampai ke mesinnya. Banyak motor kekinian juga yang sudah tidak layak jalan, hanya knalpotnya saja yang bising, sedangkan untuk dipakai terlihat tarikannya agak berat bahkan cenderung loyo dan akhirnya pun rusak/mogok. weleh-weleh....

Motor tua tahun 50an ini terlihat masih sangat gress. Karena saya penasaran, saya pun bertanya kepada pemiliknya bagaimana cara perawatannya. Sebab saya punya motor tahun 2008 merk honda saat ini sudah terlihat loyo dan kendor. hehehehehehe....
Pemiliknya pun bercerita, motor tua tahun 50an ini masih gress karena pemilik tersebut memiliki rasa syukur yang sangat besar. lho koq??? maksudnya piye toh mas??? ia karena rasa syukur itu yang membawa motor ini tetap bisa berfungsi seperti baru.
Bentuk rasa syukurnya seperti apa yak?? bingung saya jadinya ni....????
Setelah bercerita panjang lebar dengan pemilik motor tersebut saya bisa ambil kesimpulan. Ternyata pemilik motor tersebut mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap motor tuanya. Karena apresiasinya yang tinggi, maka pemilik motor tersebut tidak segan-segan untuk memakai motor tersebut ke pasar, keliling kompleks bahkan untuk berangkat bekerja sehari-hari. Takjub saya mendengarnya, mungkin kalau saya pribadi yang memiliki motor tersebut, saya tidak akan bisa melakukan apa yang dilakukan pemilik motor tua tersebut. Saya lebih nyaman jika motor tua tersebut tetap di garasi, sambil saya tengokin 3 hari sekali, 1 minggu sekali, bahkan 1 bulan sekali. Karena saya tidak akan tega untuk memakai motor tua tersebut untuk menemani kegiatan saya sehari-hari, seperti berangkat kerja dan lain-lain. Pikiran negatif saya pun terlintas bahwa ketika saya harus memaksakan motor tua tersebut untuk mengantarkan saya bekerja atau sekedar mengantarkan saya ke tempat-tempat tertentu, saya khawatir akan terdapat berbagai macam masalah. Mulai dari rem blong, lampu tidak menyala, mesin mengalami gangguan, bahkan sampai mogok. Duhhh repot dah kalau harus dorong motor tua, sedangkan saya harus berpacu dengan waktu untuk bergegas bekerja atau kegiatan-kegiatan lain. Namun pemikiran sang pemilik motor tua tersebut berbeda dengan saya. Dengan bangganya beliau bercerita tentang filosofi motor tua miliknya. Gini lho mas.. *logat beliau menjelaskan ke saya, kalau kita bersyukur maka otomatis motor tua ini akan kita sayangi dengan sepenuh hati. Rasa sayang itu akan terwujud dengan cara kita mengapresiasi motor tua ini, salah satu contoh jangan motor tua ini malah dibatasi ruang geraknya, jangan hanya di taruh di gudang atau bagasi. Pakai motor tua tersebut untuk menemani kegiatan kita sehari-hari. Justru dengan kita pakai motor tersebut, maka segala fitur motor tua tersebut akan berfungsi seperti fungsinya masing-masing. Lampu utama, lampu sen, klakson, mesin, knalpot semua berfungsi dengan baik, kenapa bisa begitu?? jawabannya adalah karena kita pakai, sehingga kita tau, kita merasakan, jikalau terdapat kerusakan ringan bisa kita perbaiki segera tanpa menunggu kerusakan berat datang dengan cara perawatan rutin. Terdapat nilai plus adalah ketika motor tua ini berada di jalan raya. Menggunakan fasilitas jalan raya yang sama namun dengan keadaan motor yang berbeda. Tentunya yang namanya jalan raya pasti terdapat banyak merk kendaraan bermotor dengan variasi tahun-tahun pembuatan yang tidak terlalu tua *maklum hari gini masih pakai motor tua???? sedangkan kredit motor banyak dan mudah, dengan bermodal uang 500 ribu + KTP + KK sudah bisa mendapatkan kredit motor dari dealer dengan merk yang bagus pula dan tentunya kekinian motornya. Tapi tidak dengan motor tua tersebut, motor yang masih dalam keadaan gress berjalan di jalan raya, bisa dipastikan akan menjadi pusat perhatian pengguna jalan yang lain. Mereka pasti bertanya-tanya juga di dalam hati.... "Gile bener motor tua tahun 50 an ini masih bisa jalan dan tarikannya masih oke, perawatannya kayak gimana yak??? hahahahahaha
Mereka juga pasti akan termotivasi dengan keadaan motor tua tersebut. Mereka yang membawa motor kekinian akan terpaku dan bertanya-tanya pada dirinya. "Kenapa motor ane yang baru malah banyak masalah yak?? bahkan sering mogok". Mereka pasti juga akan terinspirasi untuk bisa tampil lebih baik lagi dengan cara merawat motor mereka agar bisa seperti motor tua tersebut.
Motor tua yang memberikan semangat, memberikan motivasi, memberikan inspirasi.

Filosofi motor tua ini mengantarkan saya kepada sebuah kisah, Alhamdulillah saya diberikan amanah sebagai pengawas ruang USMBD *ujian nasional tingkat sd. Mulai dari Senin s.d Rabu Tanggal 16 - 18 Mei 2016 di SDN Kedaung Kaliangke 09 petang dengan keadaan Ruang Ujian sebanyak 2. Metode mengawas USMBD ini adalah 1 ruang dengan 2 pengawas, terdapat 4 orang pengawas yang masing-masing secara bergantian akan mengawas di ruang ujian tersebut. Hampir tidak ada yang spesial karena memang sudah biasa kalau cuma mengawas aja mah.... hehehehehehe
Sampai tiba di hari Selasa, 17 Mei 2016 saya mengawas di ruang 2 bersama Ibu Siti Rahayu, S.Pd.I. Ada hal yang menarik pada hari tersebut karena saya baru tau bahwa Ibu Siti Rahayu, S.Pd.I ini melaksanakan tugas negara sebagai pengawas ruang USMBD yang terakhir. Kenapa bisa begitu?? terjadilah perbincangan di ruang pengawas dengan Bu Siti, ternyata memang tahun ini Bu Siti memasuki Purna Bakti/Pensiun. Subhanallah masih semangat ya bu?? hehehe ujar saya kepada beliau karena memang dalam hati saya pun termotivasi. Kalau yang sudah memasuki masa pensiun saja masih semangat, lalu kenapa saya yang masih muda koq kendor... hehehehe
Jam 7.45 WIB seluruh pengawas ruang memasuki ruang ujian sesuai jadwalnya masing-masing. Terlihat Bu Siti yang sudah sepuh tersebut naik tangga dengan tertatih-tatih. setiap 2 anak tangga pasti berhenti untuk sekedar mengembalikan kondisi lutut dan kakinya. Selesai sudah manapaki tangga 1 per 1, tibalah di lorong lantai 2, terjadi perbincangan kecil saya dengan Bu Siti, Bagaimana bu kondisi kakiny?? saya bertanya kepada Bu Siti, sambil mengambil nafas yang dalam beliau menjawab "Alhamdulillah mas, masih bersyukur bisa berjalan, walaupun lutut saya terasa ngilu setelah naik tangga tadi". Dengan penuh antusias kami segera menuju ke ruang 2 yang berada di ujung lorong. Sesampainya di ruang ujian tersebut kami mendapatkan sambutan berupa salam dan do'a dari peserta ujian. Kemudian kami buka amplop yang berisi soal ujian, lembar jawaban komputer, berita acara, daftar hadir dan fakta integritas. Saya pun inisiatif sebagai anak muda untuk keliling membagikan lembar jawaban komputer dengan tujuan anak-anak agar dapat mengisi identitasnya. Belum selesai saya membagikan lembar jawaban komputer, Bu Siti segera membagikan soal kepada siswa dan diletakkan di meja dalam keadaan tertutup. Sambil memberikan instruksi kepada peserta ujian untuk tidak membuka soal sebelum bel berbunyi pukul 08.00 WIB. Padahal saya tau Bu Siti masih merasakan ngilu pada lututnya, terlihat jelas dari ekspresi wajah beliau yang masih menahan sakit. Masya Alloh Bu Siti lagi-lagi memberikan pelajaran kepada saya tentang tanggung jawab, mengabaikan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang yang lebih banyak. Selesai membagikan lembar jawaban komputer dan soal, lanjut kami mengerjakan berita acara, daftar hadir serta fakta integritas. Saya sengaja mengumpulkan semua berkas untuk saya tulis sendiri, karena hati kecil saya bicara, sudah cukup Bu Siti biar beliau istirahat. Tetapi belum saya tulis semua berkas beliau sudah bertanya "mana mas berkas-berkasnya biar saya tulis" saya pun sedikit terdiam dengan semangat beliau, "Sudah bu biar saya saja yang menulis" jawab saya. Namun dengan penuh semangat beliau berkata "sudah mas, sini kan setengah biar saya bantu, saya tidak terbiasa melaksanakan tugas setengah-setengah, sudah bersyukur mas saya diberikan kesehatan, jadi saya harus bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak". Subhanallah lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran berharga dari beliau. Selesai menulis berkas-berkas saya datangi peserta ujian 1 per 1 untuk melihat lembar jawaban komputernya sudah terisi identitas secara benar atau belum. Sementara Bu Siti yang tadinya hanya duduk melepas lelah, beliau pun ikut berdiri dan memeriksa lembar jawaban komputer dari sisi/barisan yang lain. Masya Alloh.... Sudah tua dan sudah memasuki masa persiapan pensiun, seharusnya istirahat namun masih mengemban tugas yang berat, menjadi pengawas ruang USMBD. Mengapa saya katakan berat? sebab apabila terdapat kesalah peserta ujian dalam mengisi identitas, lembar jawaban rusak, maka yang bertanggung jawab adalah pengawas ruang. Beliau mengajar di SDN Kedaung Kaliangke 07 Petang, rumah beliau berada di Taman Kota Kelurahan Kembangan Utara. Sehari-hari beliau menuju sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Dalam kegiatan belajar mengajar di hari biasa, beliau berangkat pukul 09.00 WIB dan pulang pukul 05.30 WIB. Sungguh perjuangan yang tak ternilai harganya dengan apapun. Dalam hati saya berdoa semoga Alloh senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan selalu kepada Ibu dan Keluarga.

Terdapat beberapa hal pelajaran yang saya dapat dari 2 kisah di atas. Tua memang takdir dari Alloh yang tidak bisa dirubah. Namun semangat harus tetap terpelihara dalam menjalankan kewajiban demi meraih keberkahan dari Alloh SWT. Tua jangan dijadikan penghalang atau dibatasi ruang geraknya. biarkan mereka yang Tua berbuat sesuatu. Jika yang Tua bisa berbuat, jika yang Tua bisa melalukan sesuatu, Jika yang Tua semangat, Jika yang Tua memberikan inspirasi, Bukan sebagai bos namun sebagai leader yang membimbing. Maka kami yang muda pun pasti akan termotivasi untuk bisa lebih baik, terbakar semangat untuk belajar. Sesungguhnya kami yang Muda belajar dari apa yang kami lihat pada yang orang Tua.

Minggu, 06 September 2015

BELAJAR SYUKUR

Minggu, 06 September 2015
Cipondoh, Tangerang – Banten

Eko Dody Nugroho, S.Pd



Assalamu’alaikum warhamatullah wabarakatuh
            Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari akhir.
            Awal September 2015 di kesunyian malam Kota Tangerang Alloh mudahkan saya untuk mengedit tulisan-tulisan ini. Sambil berdo’a agar tulisan ini bisa banyak mengingatkan diri saya, dan sebanyak-banyaknya orang, untuk mengingat Alloh, banyak bersyukur. Aamiin.
            Mudah-mudahan semuanya manfaat. Aamiin. Semoga pula kita, orang-orang tua kita, anak-nak keturunan kita, saudara-saudara kita, dan segenap orang-orang yang beriman... Semua diampunkan Alloh; semua disehatkan Alloh; Dimenangkan di setiap pertempuran terbuka dengan kuffar dan syayaathiin, atau bahkan dengan syahwat diri sendiri; dibukakan banyak jalan rizki yang luas, yang halal, yang barokah; dijadikan saleh salehah diri kita dan anak keturunan kita; panjang-panjang umurnya dalam kebaikan, kesalehan, ketaatan, kesehatan; istiqomah di urusan-urusan yang sunnah dan bener di urusan yang wajibny; cinta sama bangun malam, berjamaah dan baca Al Qur’an; Hidup mulia dengan hanya bergantung sama Alloh saja; baik diurusan rizki, masalah hidup, hajat hidup, penyakit, dan urusan-urusan dunia; bahwa yang kita lakukan sebagai ikhtiar dunia, adalah sebagai ibadah kepada Alloh saja, bukan sebagai tujuan. Termasuk diurusan hasilnya. Aamiin.
            Disetiap waktu, kita sebagai manusia mestilah menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Bernafas saja sudah Alhamdulillah.. Apalagi ditambah dengan nikmat yang lainnya. Subhaanallaah, sungguh sangat banyak nikmat Alloh. Sayang sungguh sayang kita tidak pandai bersyukur akan nikmat-nikmat Alloh tersebut. Kita sebagai manusia tidak akan sanggup mengukur nikmat Alloh. Ilustrasinya begini, suatu ketika kita berada di tengah laut lepas, sejauh mata memandang hanya air laut yang kita lihat. Lalu kita celupkan jari telunjuk kita di laut tersebut, kemudian kita angkat jari kita. Apa yang terjadi? Tentunya air menetes dari jari telunjuk kita bukan?? Itu lah manusia beserta kemampuannya. Sisanya?? Milik Alloh. Apakah kita bisa menghitung lautnya Alloh?? Subhaanallaah.
            Sekecil apapun nikmat yang kita peroleh itu adalah kasih sayang dari Alloh. Seberapa kuat mata ini melek tanpa berkedip? Itu baru berkedip. Belum matanya, belum mulutnya, belum hidung, telinga, tangan, kaki dan masih banyak lagi nikmat Alloh. Kurang bersyukur gimana? Kita bisa menghirup oksigen secara gratis gak perlu rebutan. Pernahkah kita terbayang orang yang dalam sakitnya harus membeli bertabung-tabung oksigen untuk bernafas. Semoga Alloh memberikan kesehatan bagi seluruh orang-orang yang beriman dari sakitnya. Aamiin.

            “Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai (golongan) manusia
dan  jin!”
“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman, 55 : 31-32)
           
            Kita sehat sudah sangat bersyukur banget. Coba kita lihat orang-orang disekitar kita yang sedang terbaring sakit. Entah  ringan ataupun berat, apapun itu yang namanya sakit pasti gak enak rasanya. Kita bisa buang air kecil dan air besar dengan lancar  itu juga merupakan nikmat yang luar biasa dari Alloh. Seandainya saudara berada di dalam angkutan umum sedang menuju ke kantor atau tempat kerja, jarak antara angkutan umum ke kantor masih jauh, tiba-tiba anda kebelet pengen buang air kecil. Bagaiman rasanya? Sementara saudara harus menahan buang air kecil, jalanan pun macet. Duhh gak kebayang deh...
Sampai di kantor, saudara langsung bergegas menuju kamar mandi/toilet. Sampai toilet setelah buka celana, air seni saudara gak bisa keluar. Entah itu kencing batu atau apa? Sekujur tubuh pun merasakan sakitnya yang luar biasa. Ketika keluar ternyata meneteslah darah. Ya Alloh... saudara dibawa kerumah sakit, lalu divonis satu penyakit. Kemungkinan kanker prostat. Nah, gimana tuh?
            Benar-benar kita memang manusia yang tidak pandai bersyukur. “Hanya” untuk shalat 2 rakaat saja, kita sudah pelitnya minta ampun. Rasanya kalau kita “bayar” kenikmatan dari Alloh dengan dhuha 2 rakaat saja pasti akan terasa begitu pelitnya kita. Setiap hari kita punya “hutang” dua rakaat dhuha sama Alloh. Hutang karena kita pakai badan dan karunia-karunia pemberian Alloh. Yang namanya hutang, ya ditagih. Ada yang langsung ditagih, ada yang entar-entaran ditagihnya. Tapi ya pasti ditagih.
            Terkadang kita yang bekerja atau kita yang sudah mempunyai usaha masih saja mengeluh. Entah tentang gaji atau pendapatan sehari-hari dari usaha yang kita lakukan. Padahal kalau kita lihat disekitar kita, masih banyak orang yang menganggur yang tidak memiliki usaha dan tidak memiliki penghasilan. Coba bayangkan kita yang begitu, sementara kita harus mencari nafkah untuk diri kita dan keluarga. Subhaanallaah, mastaghfirullah. Mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa kita.
            Bicara soal kenikmatan tentunya bicara tentang cara bersyukur. Ketika kita bersyukur akan segala nikmat yang telah diberikan Alloh kepada kita maka niscaya Alloh akan menambahkan dengan nikmat-nikmat yang lainnya. Begini ilustrasinya; saudara orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar. Saudara sudah penuhi kebutuhannya dari alat tulis sampai akomodasi yang memang sudah menjadi kewajiban saudara. Tetapi anak saudara masih saja mengeluh. Sudah saudara belikan sepatu baru merek A, anak saudara melihat sepatu temannya dengan merek B lebih bagus. Lalu anak saudara merengek dan meminta dibelikan sepatu merek B. Sudah punya tas baru dan bagus, masih minta tas seperti temannya yang lebih bagus. Boro-boro untuk mengucapkan terimakasih kepada saudara selaku orang tuanya. Anak ini malah cenderung melawan dan tidak patuh terhadap saudara. Pertanyaannya : Apakah saudara akan menuruti permintaan anak saudara? Mungkin jawabannya bisa jadi diturutin atau tidak diturutin. Saudara mungkin akan menuruti segala permintaan anak saudara dengan beberapa persyaratan. Karena saudara sayang, tentunya saudara tidak mau mempunyai anak yang mebangkang/nakal bukan? Oleh karena itu saudara menyuruh anak saudara untuk merubah sikapnya menjadi anak yang baik. Setelah anak saudara merubah sikapnya menjadi anak yang baik, baru anda penuhi permintaannya bahkan saudara tambah dengan yang lainnya.
Atau saudara tidak memenuhi permintaan-permintaan anak saudara sebagai hukuman. Karena selama ini anak saudara tidak bersyukur. Hal ini dilakukan untuk memberikan pelajaran kepada anak saudara.
Kedua hal itu sah-sah saja saudara lakukan, karena saudara adalah orang tua anak tersebut, saudara paham tentang apa kebutuhan anak tersebut.
Kira-kira seperti itulah ilustrasinya. Semoga kita semua senantiasa menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur.
Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya tulis tentang Bab Belajar Syukur. Tidak akan cukup dengan tulisan seperti ini, sebab sungguh luas karunia Alloh kepada hambanya. Terima kasih, mohon maaf apabila dalam tulisan ini ada beberapa hal yang tidak berkenan di hati saudara. Kebenaran adalah milik Alloh, kesalahan itu murni dari saya sebagai manusia biasa. Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya.

Wssalamu’alaikum warhamatullah wabarakatuh.

Rabu, 02 September 2015

( UYM ) ISTIQAMAH DIBALIK SEDEKAH ADA BANYAK HIKMAH



Apa yang bisa saya sombongin? Doain ya. Beda. Antara sedekah doang dengan tangan sendiri. Sama ngajak juga orang lain bersedekah bersamaan dengan sedekah sendiri. Tambah banyak pahala. Saya kayak orang yang ngerasain kuliner di X, enak. Lalu saya sampaikan. Sedekah ya begitu. Enak banget. Makanya saya kasih tau dan ajak-ajak yang lain.
10-1 bukan 9. Tapi 19.
10-2 = 28
10-3 = 37. Dan berturut-turut, 46, 55, 64, 73, 82, 91.
Dan sesiapa yang sedekah 10, malah jadi 100. Doing is baru percaya.
Apalagi saat sedekah kita bisa dinikmati oleh orang banyak. Tanpa perlu berbuah buat kita pun, sesungguhnya sudah akan mendatangkan kebahagiaan.
Banyak yang diceritain soal keberhasilan. Padahal ga berhasil juga adalah keberhasilan. Cara pandangnya aja yang harus terus belajar positif.
Seorang ayah sedekah untuk bisnisnya. Tapi bisnisnya gagal. Di saat yang sama, istrinya hamil. Setelah lama ga hamil. Berhasil atau gagal jika begini?
Seorang ibu sedekah. Agar suaminya yg diwawancarai, diterima kerja. Pulang malah ditodong orang. Dan ga diterima pula. Kalo gini?
Orang sedekah, supaya selamat pergi dan pulang. Lah, malah pesawat delay berjam-jam. Dan akhirnya batal. Kalo gini? Berhasil atau gagal?
Orang sedekah, supaya diterima di perguruan tinggi negeri. Lah lah laaaaah, ayahnya di PHK. Ekonomi ancur. Plus ga diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Terus piye?
Orang ga mau nerima diatur yang terbaik. Maunya caranya ya caranya. Kepengennya, kepengennya. Ga ngerti bahwa Allah sedang ngaturi yang the best.
Gegara suudzon, sedekah dianggap ga hasil. Mana ada sedekah yang ga hasil? Wong baru niat ikutan sedekah produktif aja, dah dibalas Allah.
Bedain. Antara niat. Denga doa. Kalo judulnya, supaya, agar, maka bagi saya, itu adalah doa. Bukan wilayah niat. Niat mah ya niat sedekah.
Sebelum sedekah, boleh minta. Masa setelah sedekah, jadi ga boleh minta, iya kan? Harusnya, setelah sedekah, tambah boleh lagi meminta.
Ngarep, doa, minta, adalah ibadah. Sedekah juga ibadah. Sedekah plus doa, jadi dua ibadah. Doanya banyak? Itu sama dengan ibadah banyak.